Permainan Tradisional Khas Kalteng

October 22, 2015 3 Comments
Jembatan Kahayan, Kalimantan Tengah

1.    Manyipet (Menyumpit)
a.    Nama permainan
Perkataan Manyipet dalam bahasa Dayak Ngaju jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti menyumpit. Dari nama tersebut dapat diketahui bhwa kegiatan utama permainan ini adalah menyumpit, yakni suatu kepandaian membidikkan anak sumpitan (damek) ke suatu sasaran dengan menggunakan sebuah sumpitan. Permaianan mentumpit sebagai suatu permainan guna melatih keterampilan biasanya dilakukan pada waktu siang hari.

b.    Latar Belakang sosial budaya
Sumpitan adalah alat berburu dan alat perang yang dipunyai oleh orang dayak dari masa ke masa. Dalam lambang daerah kalimantan tengah juga disisipkan gambar sebuah sumpitan. Karna kedudukan yang penting dari sumpitan dalam kehidupan orang-orang dayak zaman dulu. Mandau, tameng, dan sumpitan merupakan seperangkat peralatan perang yang selalu dibawa para pendekar dayak kemanapun mereka pergi.
Sumpitan merupakan senjata yang paling ditakuti lawan karna mempunyai kemampuan serang jarak jauh, yaitu bebrapa puluh meter dan dapat dilancarkan tanpa mengeluarkan bunyi. Jadi serangan sumpitan merupakan serangan jarak jauh yang tak berbunyi.
Senjata sumpitan juga mempunyai racun yang disebut ipu pada ujung anak sumpitan yang disebut damek. Kadar racun ipu amat tinggi dan mampu membunuh dalam temppo beberapa detik atau beberapa menit saja.

c.    Latar Belakang sejarah perkembangan
Yang melatarbelakangi perkembangan dan pertumbuhan permainan menyumpit ini adalah tuntutan kehidupan sehari-hari baik untuk kepentingan berburu atau berperang, dan kepandaian menyumpit ini harus ditempa hingga tercapai suatu tingkat keterampilan yang dapat diandalkan.
    Setelah orang dayak mengenl senjata api, sumpuitan muli terdesak. Orang mulai berlih ke senjata api. Sumpitan kemudian digunakan hanya untuk berburu burung atau binatang kecil lainnya.
Kemudian sumpitan jarang diperoleh dan sumpitan menjdi barang antik. Sejalan dengan itu, anak-anak mengembangkan jenis sumpitan baru, yaitu yang dibuat dari buluh yang bernama tamiang. Buluh ini hanya mempunyi garis tengah hanya bebrapa centi meter dan mempunyai ruas yang anjang serta buku yang tipis.
Karna sumpitn berubah bentuk, anak sumpitan juga berubah bentuk. Kini anak sumpitan dibuat dari tanah liat yang lembek dibentuk berupa bola-bola kecil. Sasaranpun berubah yakni binatang kecil yang terdapat dipantai sungai-sungai besar yang dangkal.
d.    Deskripsi permaianan
Permainan menyumpit ini biasanya dapat dilakukan sendirian dan dapat dilakukan bersama-sama dalam bentuk pertandingan. Dan jika dimainkan dengan pertandingan maka jumlah peserta tergantung kepada jumlah peminatnya. Pemain biasanya laki-laki berusia antara 9-15 tahun. Kalau pertandingan dengn sumpitan biasanya pesertanya laki-laki dewasa.
e.    Peralatan/perlengkapn permainan
Peralatan pokok permaianan ini adalah sebuah sumpitan serta beberapa buah anak sumpitan. Lapangan bermain tidak menuntut pengadaan secara khusus karna alam terbuka merupakan lapangan bermain yang telah tersedia.
f.    Cara permaianan
a)    Setiap haruslah mempunyai sebiah sumpitan. Sumpitan ini biasanya terbuat dari kayu besia (tabalien/ulin) yang merupakan sebuah silinder yang berlubang ditengahnya sehingga menjadi sebuah pipa. Panjang kira-kira 2 meter. Pada ujung sumpitan terdapat mata tombak. Manfaat mata tombak ini sebgai alat berburu binatang. Anak sumpitan hanya dibuat dari bambu yang diraut halus dan salah satunya diruncingkan. Pada ujung lainya dipasang kertas yang membentuk kerucut.
b)    Setelah masing-masing memegang pemain lalu bersama-sama mencari sasaran yang dianggap baik. Dalam hal ini sasaran yang sengaja disiapkan seperti pada perlombaan memanah tidak ada. Jarak antara penyumpit dan sasaran juga tidak terdapat ketentuan pasti/baku. Jarak tergantung pada tingkat kemahiran para pemain atau penyumpit. Semakain mahir maka jarak sasaran akan semakin kecil dan jauh.
Kadang-kadang sasaran menyumpit tidak sama, msalnya kalau para pemain sepakat untuk menyumpit burung, maka mereka pergi ketempat yang banyak burung berkumpul, lalu disitu membagi giliran, seorang penyumpit lalu giliran penyumpit berikutnya. Kadang mereka juga bersepakat untuk mentumpit satu ekor burung, dan yang berhasil menjatuhkan maka dia yang jadi pemenangnya.
Pada anak-anak dengan sumpitan dengan bulu tamiang, sasaran mereka adalah binatang melata amphibia yang disebut tempakul. Anak sumpitannya dari tanah liat. Pennetuan juara sama seperti diatas.
c)    Permaian ini bukanlah permaian yang rumit, pentahapannya hanya dua, yaitu tahap persiapan dan pertandingan.
d)    Sebegitu jauh belum diketahui konsekuensi menang-kalah, karna permaianan ini hanya lebih banyak bersifat memperagakan keterampilan. Jadi hanya sebutan juara atau jago itulah yang menjadi kebanggaan setiap pemenang.

Baca Juga:

Jasa Layanan Terjemah - Tukang Terjemah.com
Pesona Karimun Jawa


2.    Sepak sawut
a.    Nama permainan
Sepak sawut merupakan permainan tradisional yang banyak digemari oleh masyarakat bukan hanya kalangan muda tetapi banyak juga orang tua yang menggemari permainan yang satu ini terutama warga masyarakat Kalimantan. Sepak sawut yaitu sebuah permainan seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang membedakan dengan permainan sepak bola yaitu pada bola yang digunakan untuk bermain merupakan bola yang berapi.

b.    Latar Belakang Sejarah
Dahulu, sepak sawut merupakan rangkaian ritual adat, dimainkan saat membuka ladang berpindah/saat menunggu jenazah (untuk umat Kaharingan). Sekarang olahraga rakyat itu secara rutin dimainkan pada setiap perayaan ulang tahun kabupaten atau provinsi di Kalteng.
Dahulunya sepak bola yang satu ini dimainkan pada saat orang ingin membuka ladang berpindah. Karena kebanyakkan pada tempo dulu di Kalimantan hampir semua kegiatan dilakukan secara gotong-royong seperti membangun rumah, membuka ladang, menanam padi, memanen padi yang dilakukan secara bersama-sama atau dalam bahasa daerahnya “handep”. Permainan sepak sawut sekarang sudah agak jarang kita temukan. Artinya permainan ini hampir langka hanya pada waktu-waktu tertentu saja kita dapat menyasikannya, misal pada perayaan ulang tahun Propinsi Kalteng, ulang tahun kabupaten, festival-festival budaya.

c.    Cara Permainan
Bolanya dapat terbuat dari bongkahan sabuk kelapa tua yang telah kering dengan terlebih dahulu airnya dibuang lalu bongkahan tersebut direndam menggunakan minyak tanah. Tujuannya supaya minyak meresap kedalam serat-serat bola kelapa tersebut. Supaya lebih seru lagi permainan ini dimainkan pada malam hari. Ini memiliki keindahan tersendiri, karena penerangan hanya menggunakan lampu seadanya dan cahaya kebanyakan bersumber dari bola api yang dimainkan. Peraturan main juga hampir sama, tidak berbeda jauh dengan main sepak bola pada umumnya yang terdiri dari dua gawang, gawang kita dan gawang musuh. Satu tim terdiri dari lima orang pemain. Lapangan yang digunakan tidak berbeda jauh dengan luas lapangan bola basket. Pertandingan dipimpin oleh seorang wasit. Siapa yang banyak memasukkan bola ke gawang lawan maka tim tersebut yang dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba. Satu tim hanya diperkuat lima orang dengan ukuran arena seluas lapangan bola basket.



3.    Bagasing
Bagasing ini seperti gasing pad umumnya. Tetapi gaing disini terbuat dari batang atau pohon karet. Biasanya bermain dalam 2 mode yakni adu lama dan adu tikam. Dalam adu lama, gasing yang paling lama berputar itulah yang keluar sebagai pemenang. Sedang dalam adu tikam, satu gasing di mainkan terlebih dahulu baru kemudian lawan akan melemparkan gasingnya hingga mengenai gasing yang sedang berputar, dan yang bisa bertahan adakah pemenangnya.
Ada beberapa jenis permainan gasing, yakni :
a.    Gasing Balanga
Gasing Balanga juga merupakan jenis gasing tradisional Suku Dayak khas Kalimantan Tengah yang sering dipermainkan dalam tradisi "Bagasing". Jika pada Gasing Pantau mampu berputar lebih lama serta mengeluarkan bunyi yang nyaring, maka tidak demikian halnya dengan Gasing Balanga, gasing jenis Balanga ini adalah gasing yang umumnya dibuat dan dimainkan untuk tujuan diadu dengan gasing lain.
Tradisi mengadu Gasing Balanga ini dikenal warga masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dengan sebutan Batikam yakni mengadu ketahanan Gasing Balanga saat satu sama lain saling bersentuhan. Dalam kegiatan Batikam ini tidak jarang salah satu gasing akan pecah atau terbelah akibat benturan yang sangat keras. Gasing yang terjatuh, keluar dari arena permainan, apalagi sampai terpecah maka secara otomatis akan menjadi pihak yang kalah.
Bentuk Gasing Balanga menyerupai sebuah tempayan atau dalam Bahasa Dayak Kalteng dikenal dengan istilah "Balanga". Ukuran Gasing Balanga atau gasing aduan ini biasanya memiliki diameter lingkaran sekitar 9 Cm dan tinggi sekitar 7 Cm.

b.    Gasing Pantau
Gasing Pantau merupakan satu diantara jenis gasing tradisional khas Provinsi Kalimantan Tengah, Dalam budaya masyarakat Dayak Kalteng tradisi memainkan gasing ini dikenal dengan istilah "Bagasing". Gasing Pantau adalah gasing yang dimainkan sedemikian rupa agar dapat berputar dalam waktu yang cukup lama. Ciri khas Gasing Pantau yang membedakannya dengan jenis gasing tradisional khas Kalteng lainnya yakni Gasing Balanga adalah Gasing Pantau mampu mengeluarkan bunyi.
Perpaduan antara lamanya perputaran gasing pada suatu poros dengan dinamika nada yang dikeluarkan oleh Gasing Pantau inilah yang membuat jenis gasing ini cukup menarik dan sering diperlombakan pada berbagai festival seni dan budaya Suku Dayak. Gasing Pantau yang mampu berputar lebih lama dan mengeluarkan bunyi yang nyaring biasanya akan keluar sebagai pemenang.



 Pada zaman dahulu, sebelum Gasing Pantau dikenal sebagai salah satu perlombaan yang sering dipertunjukan pada berbagai festival kebudayaan Dayak, Gasing Pantau dahulu juga sering digunakan pula pada berbagai ritual-ritual adat Suku Dayak di Kalimantan Tengah seperti pada upacara ritual suku dayak pada saat menyambut panen sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta.

                                             Jasa Layanan terjemahan Kalimanatan Tengah

4.    Balap egrang
a.    Nama permainan
Egrang : permainan anak tradisional khas kalteng yang terbuat dari bambu dengan panjang 2 meter kemudian diberi pijakan untuk kaki. Permainan ini mengandalkan keseimbangan agar dapat berdiri diatas alat ini.

b.    Latar belakang sejarah/sosial
Seperti egrang pada umunya di Indonesia. Para pemain egrang pun beragam, mulai dari yang anak-anak hingga dewasa.
c.    Alat permainan dan cara bermain
Egrang terbuat dari bambu dengan panjang 2 meter sebesar lengan orang dewasa kemudian diberi pijakan untuk kaki. Permainan ini mengandalkan keseimbangan agar dapat berdiri diatas alat ini.

5.    Tembak tutus

a.    Nama permainan
Tembak tutus adalah nama sebuah permainan masayrakat kalteng, menurut informasi permaianan ini berasal dari kawasan sungai kahayan dan kapuas. Tembaka tutus berasal dari bahasa dayak ngaju yang terdiri atas dua kata, yaitu tembak dan tutus. Tembak artinya bedil dan tutus berarti tusuk atau tekan. Jadi temabak tutus adalah nama permainan yang terbuat dari bambu yang dapat mengeluarkan bunyi letupan.
b.    Latar belakang sejarah
Menurut informasi orang-orang tua, permainan ini lebih dulu dikenal dikawasan sungai kahayan dan kapuas. Bahkan boleh dikatakan permaianan ini berasal dari daerah tersebut dan sekarang sudah menyebar luas ke pelosok kalteng.
c.    Deskripsi permainan
Perang-perangan dengan tembak tutus biasanya memerlukan suatu kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5 atau 6 orang. Pesertanya berusia antara 10 – 15 tahun. Mereka membuat sendiri alat permainan ini. Permainan ini terbatas pada laki-laki saja, anak-anak wanita memang tidak cocok memainkannya.
d.    Perlengkapan permainan/alat
Alat yang digunakan hanya berupatembak tutus dan pelurunya. Tembak tutus terbuat dari bambu kecil, kira-kira sebesar ibu jari. Bambu tersebut dipotong kurang lebih 30 cm dan hanya dipakai ruasnya saja untuk membentuk loop atau laras. Kemudian untuk padanannya dibuat yang disebut tutus. Tutus ini adalah alat untuk menekn peluru didalam laras tadi. Bambu penekan dibuat dari bmbu yang dibelah dan diraut halus. Setelah itu dibuat pegangannya (ulu).

Alat yang lain lagi adalah  pelurunya. Peluru biasanaya buah kayu yang ukurannya kecil. Ada dua macam jenis buah yang biasa untuk peluru, yaitu buah uei nyamei dan buah sampaheneng. Buah-buahan ini biasnaya berukuran hampir sama sehingga gampang masuk kedalam lubang bambu laras. ini digunakan untuk perang-perangan, Sekaranga pelurunya dengan menggunakan peluru yang terbuat dari kertas, buah mesisin atau apa saja yang kecil dan keras.

6.    Sebumbun
a.    Nama permainan
Sebumbun adalah permainan anak tradisional khas kalteng yakni dengan menyembunyikan sesuatu, biasanya kayu, ranting atau batu didasar sungai.
b.    Latar belakang sejarah/ sosial budaya
Permainan ini dilakukan sewaktu anak-anak mandi. Suku dayak biasanya mereka hidup dipinggir sungai, dan melakukan aktivitasnya disungai juga termasuk mandi. Anak-ank sewaktu mandi inilah merek melakukan permainan ini. Yakni untuk mengisi kekosongan waktu dan agar supaya waktu mandi mereka lebih rame.
c.    Cara Bermaian / Alat permainan
Mereka memulai permaian dengan hompilah, yang menang bertugas menyembunyikan benda milik mereka dan yang kalah bertugas mencari benda tersebut. Benda yang disembunyikan adalah benda yang keras dan kelihatan, muisalnya ranting pohon, batu yang unik, dll. Tidak ada batasan waktu dalam mencari benda didalam air.
Biasanya permaianan ini dilakukan sewaktu mandi.

7.    Balian sakei uei
a.    Nama permainan
Balian sakei uei adalah sejenis panjat pinang dan terbuat dari rotan. Nama ini berasal dari bahsa dayak yang terdiri atas dua suku kata, yaitu Sakei : memanjat dan Uei : rotan.
b.    Latar belakang sejarah
Permainan ini biasanya diadakan saat ada pesta pernikahan atau pesta adat.
c.    Peralatan / cara permainan
Panjang rotan sekitar 2 – 3 meter dan diberi minyak. Rotan yang digunakan sebesar lengan tangan orang dewasa dan panjangnya sekitar 2 meter.Permainan ini hanya untuk satu orang saja.Diujung rotan diberi tempat khusus untuk menyimpan minyak, dan juga ada hadiah berupa makanan. Filosofi permainan ini adalah setelah diadakan ini, diharapkan mendapatkan rezeki.

Cerpen - Kenangan Masa Kecil

October 22, 2015 Add Comment
Panas mentari siang ini tak membuatku beranjak pergi. Samar-samar kulihat lampu kota dan gedung tinggi dari kejauhan.Mobil lalung lalangpun tak kuhiraukan. Ku masih berdiri mematung, bagai patung yang ada ditaman pemuda. Diam tanpa ada kata. Pikiran jauh melayang tanpa batas.Angin sepoi terus berhembus, menerpa rambutku yang agak panjang. Baju batik bermotif benang bintik yang aku kenakanterus berkibar-kibar diterpa angin.Sesekali kudengar suara klotok lewat dan menimbulkan efek riak air yang indah.

Aku baru saja tiba dari negeri paman sam . Sudah 10 summer  dan 11 winter  aku meninggalkan tanah kelahiranku, merantau ke negeri orang. Bekerja sebagai staf kedubes RI di Amerika Serikat. Akhirnya setelah sekian lama aku kembali ketanah air untuk mengobati rindu yang tak terkira.
Sejak kedatanganku, aku mulai mengingat kenanganku akan kota ini. Kota yang telah banyak perubahan. Dulu hutan, sekarang penuh dengan gedung tinggi bertingkat dan banyak mobil bercat mengkilat. Tapi ingatan akan masa  kecil itu tak menghilang begitu saja, serasa baru kemarin pergi dan sekarang sudah pulang lagi.
Gerimis rintik mulai turun, tapi aku masih saja diam terpaku. Berdiri seorang diri diatas jembatan nan indah ini yang dihiasi lampu berwarna biru. Jembatan yang membelah sungai kahayan. Jembatan kebanggaan masyarakat kota palangka raya. Jembatan Kahayan  ini masih kokoh beridiri meskipun sudah berumur 18 tahun sejak diresmikan oleh Ibu Megawati, Presiden RI.
**
Siang itu cuaca terasa panas, mentari begitu bersemangat menyinari bumi. Aku tersentak kaget tak tercaya ketika aku mendapat surat dari kedutaan besar Indonesia di Amerika. Perlahan kubuka surat itu, dan ku baca surat itu.
“Yes, hore... ku diterima sebagai staf di kedubes RI”? sorak ku girang.
Dan segera aku beritahu ibu mengenai hal ini.
“mama, aku besok pagi berangkat ke Amerika, aku diterima kerja disana ma, sebagai staf kedubes”. Teriaku gembira
Mama hanya menggangguk dan dibarengi senyum manis diwajahnya.Dirumah, aku hanya tinggal berdua dengan ibu, ayah telah lama meninggal saat kapalnya tenggelam mencari ikan di sungai kahayan.
Hari keberangkatanku ke Amerika adalah besok pagi. Dengan segera aku merapikan baju dan berkemas. Sambil hati senang dan masih rasa tak percaya. Seorang anak pinggiran sungai kahayan bisa menjadi staf di kedubes RI di Amerika.
Bahasa inggris ku mulai lancar karna sejak kecil aku sering berbicara dengan wisatawan yang datang dan menyewa kelotokku untuk menyusuri sungai kahayan ini.Susur sungai  adalah mata pencaharianku, sekaligus aku bisa belajar bahasa inggris dengan native speaker . Seperti kata pepatah, “sambil menyelam minum air”.
**
Philadelphia , kota di amerika yang membuatku terpilih sebagai staf kedubes RI. Kota yang tidak kehilangan jati dirinya. Kota yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan Amerika. Kota yang bernuansa abad pertengahan, yang dipercantik dengan gedungnya yang khas dan penduduknya yang ramah. Mereka sangat suka dengan keunikan budaya.
Aku bekerja sebagai staf di kota ini. Kegiatanku selain dikantor adalah sebagai tenaga pengajar tari khususnya tari dayak. Tari giring-giring yang paling banyak diminati. Hal ini membuatku semakin betah tinggal di Philadelphia. Ditambah banyaknya koleksi barang-barang tradisional khas Indonesia. Mulai dari sabang sampai merauke.
Musim terus berjalan, belum sekalipun aku pulang untuk menengok ibu. Summer-winter terus kulalui., rasa kangen akan tanah kelahiran dan coklatnya sungai kahayan semakin menyayat di kalbu. Dan akhirnya aku putuskan untuk kembali ke kota Tambun Bungai .
Di musim winter yang ke 11 ini aku pulang. Dengan diantar oleh teman-teman dari kedutaan, aku berangkat menuju bandara. Tangis teman-teman pun pecah seiring dengan kepergianku.
Sekejap kemudian pesawat mulai take-off dan mulai meninggalkan Amerika menuju kota cantik palangka raya, tanah kelahiranku.
**
Dari balik kaca pesawat, aku sudah mulai merasakan bahwa kepulauan Indonesia semakin dekat. Hati terus tak sabar menanti, ingin melihat pulau borneo. Dari balik kaca, aku terus mengenang dan membayangkan bagaimana wajah tanah kelahiranku.
Tak terasa bandara Internasional sukarno Hatta, jakarta telah terlihat. Sekejap kemudian, kakiku telah kembali menginjak tanah air Indonesia.  10 tahun lalu, aku berdiri di atas tanah ini untuk meninggalkan tanah air, tapi sekarang aku kembali.
Lalu kemudian aku meneruskan perjalanan ke kota palangka raya. Terdengar bunyi pesawat yang mulai meninggalkan bandara mengantarkan aku untuk menghapus rindu ini. Didalam pesawat aku berkenalan dengan teman duduk ku, dia namanya santi. Dia aslidari banten, ingin liburan melihat kota palangka raya dan hutannya yang masih asri. Senyum manis terlintas di wajahnya. Kami banyak mengobrol mengenai kalteng. Dia juga cerita bahwa dia baru menyelesaikan kuliahnya di Harvard university.
**
Door.....!! teriak seseorang sambil menepuk pundakku
Sontak akupun kaget dan melihat siapa yang mengejutkanku ini.
“Hai, anci... gimana kabar kamu?”,tanyaku sembari menjabat tangannya
“ya, beginilah.. masih jadi tukang perahu... tidak seperti kau yang jadi staf dan pergi keluar negeri,.” Jawab anci
“eh,,, aku baru saja sampai nie, kangen pengen jalan-jalan, kayak dulu.” Ajakku
“eh boleh juga.. kebetulan aku bawa motor.. ya lumayan lah buat jalan-jalan.” Ajak anci
“oke dech.. sipp...” jawabku
Dia adalah anci, teman masa kecilku. Kami sering bermain bersama. Teringat kami sering bermain sebumbun  sewaktu mandi. Kami berlomba untuk menjadi juara dalam permainan ini. Kami tinggal diHuma Betang . Anci adalah tetanggaku. Pintu kamipun berdekatan.
**
Tak terasa senja mulai tiba. Aku diantar anci pulang kerumah. Akupun terheran dengan keadaan yang ada. Kemana rumah huma betangku?. Kok, semua telah berubah menjadi bangunan tembok. Akupun diantarnya ke sebuah rumah bercat warna biru dikompleks perumahan dekat jembatan kahayan. Tampak seorang wanita tua keluar. Ya.. dia adalah ibuku.
Aku berlari kecil menuju rumah, dan kemudian disambut hangat pelukan ibu. Tanpa peduli dengan apapun, ku peluk tubuh ibu dengan erat. Air mata berlinang diujung kelopak matanya. Tetangga pun ikut terharu melihat kami berpelukan. Sekejap kemudian, aku telah hanyut bercerita dengan ibu. Mencurahkan segala rindu dihati.
Diluar terdengar suara riuh anak-anak sedang bermain, ada yang bermain sepak bola, lari dan ayunan. Akupun duduk didepan pintu. sembari melihat anak-anak bermain. Aku begitu menikmati permainan mereka. Sesekali tertawa karna melihat mereka jatuh.
Aku melamun membayangkan masa kecilku. Tak berapa lama,lalu ancipun datang dan duduk disebelahku sambil membawa egrang .
“anci, kamu masih ingat sewaktu kita main tembak tutus .?” Tanyaku
“iya... kamu kalahkan?” candanya, sembari mencubit tanganku
“enak aja, kamu tuh yang kalah..” jawabku tak mau kalah
“ya,, tapi sayang.. sekarang sudah tidak ada lagi yang mau bermain mainan seperti kita dulu.” Jawab anci dengn nada sedih.
“iya, mereka lebih suka bermain video game.” Jawabku
“ehm,,, sudhlah....... ayo kita maen egrang.” Ajak anci
“ayo, siapa takut. Kita balapan,” ajak ku
Senja itu, lagi-lagi aku mengulang masa kecilku bermain bersama anci.
 
Sungai Kahayan, Palangka Raya

**
Malam itu aku jalan-jalan keliling kota palangka raya, disudut kota masih ada sekelompok anak muda yang masih bermain bola api, sepak sawut namanya. Akupun berhenti dan melihat permainan mereka. Akupun teringat ketika malam meninggalnya ayah, banyak yang bermain sepak sawut. Tak terasa air matapun mengalir membasahi pipi. Tak mau larut dalam kesedihan, akupun turut serta bermain sepak sawut bersama mereka.
Setelah puas bermain, akupun meneruskan perjalananku. Jam telah menunjukan pukul 21.00. aku berhenti disalah satu kafe malam di dekat bundaran kota. Aku memesan jus jeruk dan jagung bakar, sungguh malam yang indah dengan ditemani lampu malam serta keramaian kota dimalam hari.
**
Di Pagi yang cerah ini aku dan Anci akan melakukan susur sungai kahayan. Menaiki kapal ini, membuat aku teringat dengan masa lalu. Dengan ditemani suara gemericik air serta kicauan burung-burung dan suara hewan menemani sepanjang perjalanan kami.
Hari ini kami membawa beberapa penumpang yang semuanya berasal dari luar kalteng. Tujuan kami adalah menuju desa kanarakan, desa yang masih hijau nan asri. Lama perjalanan pun tak kami pikirkan, keindahan alam pinggir sungai menemani kami dan menghilangkan rasa letih kami. Aku membantu Anci mengemudikan perahu ini.
Ada yang istemewa dalam perjalanan ini. Ada santi dalam perahu kami. Dia sungguh membuatku terpesona. Tubuh dengan balutan baju batik motif benang bintik membuat dia semakin cantik saja.
**
“hi.. santi.. gimana kabar? “ sapaku
“ hi.. Baik.. kamu sendiri gimana? Udach kemana aja?” tanya santi padaku
“baik juga.. aku belum pergi jauh sich, baru kebundaran dan keliling kota.” Jawabku singkat
“owh, kalau aku kemarin ke bukit karmel di tangkiling. Jawabnya dengan senyum manis diwajahnya
Ketika kami sedang asyik mengobrol, Brakkk................tiba-tiba kapal menabrak kayu yang hanyut. Kapal pun goyang dan kamipun kaget. Karna santi duduk dipinggir kapal, dia pun terjatuh ke sungai. Tanpa komando, aku terjun untuk menolong santi.
Dan terdengar suara,, hei, hei bangun...!!! suara itu semakin lama semakin keras. Perlahan kubuka mata dan kulihat aku masih didalam kamarku di philadelphia. Teman-temanku menertawakanku karna aku basah kuyub oleh keringat.
“hei, siapa tu santi? Bidadari ya?, dipanggil-panggil terus. ” Ledek marcel
Aku cuma tersenyum saja
“bangun, mandi, udah jam berapa 7 pagi ni. “ teriaknya
Spontan mendengar sudah jam 7, aku langsung bangkit dan bergegas untuk menjalankan rutinitasku sebagai staf dikedubes RI. Sambil bersiap-siap masih terngiang mengenai kejadian dalam mimpi yang seakan nyata terjadi. Layar komputerku masih menyala dan terlihat gambar-gambar kota palangka raya.
Karna saking rindunya dengan ibu dan kampung halaman sampai-sampai terbawa dalam mimpi. Ku berharap bahwa kalteng tidak kehilangan jati diri akan budaya seperti kota philadelphia yang masih terus mempertahankan keasliannya. Dalam hati kecil berharap, semoga santi benar-benar ada.

Palangka  Raya, 17 Oktober 2013