Cerita serba serbi asrama

September 05, 2015 Add Comment
Perkenalkan, namaku choirul fuadi. Aku berasal dari sebuah desa kecil didaerah Pangkalan Banteng, kabupaten kotawaringin barat, Kalteng. Aku adalah seorang mahasiswa jurusan tarbiyah, program studi Tadris Bahasa Inggris, STAIN Palangka raya. Aku sekarang sudah berada di semester 6. Dengan semester ku sekarang, aku jadi mahasiswa yang lumayan sibuk dengan beragam kegiatan. Aku sendiri adalah salah satu senior di asrama putra STAIN Palangka Raya. Jumlah kami ada 9 orang, sehingga kami dijuluki tim 9 oleh pembina kami.
Motivasi ku menjadi senior adalah untuk mengabdikan diri kepada kampus, agama, negara serta berbagi ilmu dengan teman-teman mahasiswa baru. Ilmu yang kita dapat jika tidak diamalkan maka akan hilang, begitu pikirku. Sebenarnya saat itu aku sedang dalam sibuk-sibuknya dengan kuliah maupun organisasi. Tapi ketika aku melihat pengumuman tentang penerimaan senior untuk asrama Ma’had al-jami’ah yang baru, aku langsung tertarik untuk mendaftar. Berbekal dengan ilmu yang ada, akhirnya aku putuskan untuk mendaftar. Syarat untuk menjadi senior pun mudah, salah satunya cukup mengusai salah satu bahasa (Arab atau Inggris) dan bisa berbicara dengan kedua bahasa itu meski pasif.
My self when was in undergraduated of STAIN Palangka Raya
****
Hari itu, aku dan arifin pergi ke ruangan PK3 untuk mendaftar. Ternyata baru ada satu orang yang mendaftar. Dalam hati, pasti bisa diterima ini. Tapi, ternyata ada tes terlebih dahulu sebelum jadi senior. Beberapa minggu kemudian, tiba saatnya, yakni tes. Aku buka pintu dan kulihat ada dua orang yang siap mengetes diriku, mereka adalah Mr.Eka dan Mr.Luqman. Dalam hati berkata, mungkin mereka akan memberikan sejuta pertanyaan dan ujian.
Dengan membaca bismilah, langsung saja ku buka pintu dengan tangan gemetar, kemudian kumasuki ruangan dengan hati dag dig dug. Ternyata benar, mereka memberiku sejuta pertanyaan. Pertama, mereka menyakan tentang motivasiku. Setelah itu tes bahasa (aku disuruh cerita mengenai keluarga, dalam bahasa inggris tentunya). Setelah itu, tes membaca al-qur’an. Huft, alhamdulillah, selesai sudah ujiannya. Aku merupakan salah satu dari 40 pendaftar untuk menjadi calon senior di asrama putra.
****
Setelah Liburan semester 4 berakhir, kami kembali ke palangka raya. Aku mendapat kabar bahwa aku terpilih menjadi senior. Dari 40 orang pendaftar,  ternyata hanya dipilih 24 orang saja. Terdiri atas 9 senior laki-laki dan 15 senior putri. Aku kemudian  pindah rumah, yakni asrama. Kami para mahasiswa putra menempati asrama ulin nuha yang dulunya merupakan asrama yang hanya untuk mahasiswa bahasa inggris. Sedang, untuk mahasiswa putri mereka menempati asrama baru yang bangunanya kayak hotel bintang 4. Besar, luas dan 4 lantai lagi. Serta terdapat 2 kolam didepannya. Kami cukup iri dibuatnya, tapi bersyukur karna meski bangunan ini sudah ada sejak dulu, tapi baru 2 bulan yang lalu selesai dipugar.
Saya dan senior putra yang lain sudah bertempat tinggal diasrama lebih dulu dari mahasiswa baru. Kami mengatur kamar dan mempersiapkan untuk menyambut mahasiswa baru yang akan tinggal disini. Mereka adalah baihaki, ajahari, iswan, syamsu, arifin, zainuri, ahmada dan mitra. Saya dan baihaki menempati kamar yang sama, yakni kamar didekat koridor dan wc.
Banyak cerita yang terjadi dikamar ini. Awal-awal dulu, kamar kami sempat terkena banjir hingga beberapa hari. Hal itu terjadi, karna sebelah kamar kami adalah wc dan dinding penyekat itu ada lubang kecil sehingga air bisa masuk ketika air di penampungan kamar mandi penuh. Semua lantai dan barang-barang kami pun terkena air. Kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang itu karna kami masih dimasjid. Selama beberapa hari kami mengungsi ke kamar senior lain. setelah dinding itu diperbaiki, kami pun bisa kembali ke kamar kami lagi.
***
Sometime we need a refreshing
 Malam itu adalah malam yang paling berkesan. Malam itu adalah malam pemilihan ketua asrama putra. Seluruh senior asrama putra berkumpul di kamar ku. Iswan dan Arifin memilih menjadi seksi bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Baihaki memilih menjadi seksi kebersihan. Syamsu memilih menjadi seksi keamanan. Mitra memilih menjadi seksi minat dan bakat. Zainuri memilih menjadi bendahara. Ahamda memilih menjadi seksi keagamaan. Tak mau kalah, aku pun memilih menjadi senior. Hemmm... tinggal satu jabatan lagi nich, yakni ketua asrama. Dan senior yang belum dapat jatah adalah ajahari.
Awalnya dia menolak, setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya dia mengalah dan terpilihlah ajahari nurohman sebagai ketua asrama putra untuk satu tahun kedepan. Dimalam itu kami menyusun program kerja tentang apa yang akan dijalankan untuk kegiatan di asrama. Malam itu, kami bercerita tentang banyak hal hingga larut.
Malam berikutnya, Kami iuran untuk membeli sayuran. Kemudian kami bersama-sama memasak didapur. Setelah itu, kamipun makan bersama. Sungguh moment yang tak terlupakan. Kapan lagi kita bisa seperti itu? sebenarnya saya dulu punya kenangan seperti itu. cerita itu terjadi ketika saya masih menjadi yunior di asrama ulin nuha (waktu semester 1 dan 2). Kami sering makan bareng, bahkan sahur untuk puasa senin kamis pun bareng.
***
Hari itu adalah titik awal semua kegiatan dimulai. Ya, hari ini kita ada ceremony untuk membuka kegiatan kita secara resmi. Mulai dari seksi bahasa samapai olahraga. Kegiatan itu dipimpin langsung oleh pak Eka selaku pembina kami. Selain membuka secara resmi, kita juga sekalian sosialisasi mengenai kegiatan kita di asrama.
Ooo iya, kita juga diberi kesempatan lho untuk memperkenalkan diri. Terdengar suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan tempat kami melakukan kegiatan yakni di Aula utama STAIN Palangka Raya. Rasa wibawa tumbuh didada. Kami berjalan dengan tegap tapi santai menuju meja depan. Kemudian ‘time to show’, satu persatu kami memperkenalkan diri kami masing-masing.
Setelah itu, diasrama kami mulai dipanggil brother. Rasa saling menghormati kami bentuk agar tidak ada rasa benci diantara kita. Kami pun mulai menjalankan program kerja itu satu demi satu. Ooo, saya ucapkan terima kasih kepada member kelompok pertama saya, yakni kamar no 8, 12 dan 14. Mereka itu adalah orang-orang yang sungguh luar biasa, meski ada dari mereka yang membandel. Semoga saja bisa menjadi lebih baik lagi.
***
Hari-hari berlalu, program kerja dari kami sendiri maupun dari pembina mulai kami jalankan. Kami mulai memakai bahasa Inggris dan Arab.  Bila adzan subuh berkumandang, kami berangkat ke masjid sama-sama dan begitu juga adzan magrib. Meski kegiatan di asrama lumayan banyak, tapi itu tidak mengganggu jadwal kuliah maupun yang lainnya. Malahan kita dapat banyak manfaat dan ilmu jika kita dapat mengikutinya dengan baik dan juga kita harus pintar mengatur waktu.
Bangun pagi-pagi, kemudian membangunkan yunior kami. Itu merupakan rutinitas pagi kami. Jika hari itu adalah senin dan kamis, maka kami akan melaksanakan shalat tahajud berjamaah. Setelah shalat subuh, kita membaca al-qur’an sekitar 10 menit. Setelah itu, lanjut dengan pemberian vocab. Vocab nya gak lama koq, sekitar 15 menit. Setelah itu teman-teman sudah bisa melaksanakan rutinitas yang lainnya.
Pada awalnya, kegiatan diasrama diikuti oleh para yunior dengan baik. Mereka mengikuti semua yang telah terjadwal. Ketika magrib, subuh maupun isya, masjid selalu penuh dengan jamaah yang kebanyakan adalah mahasiswa yang tinggal diasrama. Namun lambat laun, mereka mulai membandel (maklum, baru jadi mahasiswa). Meski begitu kami para senior tidak patah semangat. Kami terapkan strategi absensi. Bagi yang melanggar akan mendapat hukuman. Mereka jadi bisa bangun pagi. Mungkin karna terpaksa atau takut dengan hukuman kami yakni masuk ke mahkamah bahasa.
Bagi kami sendiri, mahkamah bahasa sebenarnya adalah sarana bagi mereka untuk lebih meningkatkan kemampuan berbahasa mereka. Baik dalam bidang kosakata, cara membaca maupun percakapan. Namun hanya sedikit yang mau menurut. Bahkan sebagian dari mereka kabur dan tidak mau mengikuti mahkamah bahasa.
Pagi-pagi sekali, sebelum adzan subuh berkumandang, kami para senior yang mendapat giliran piket telah berjaga di pos satpam. Kami menerapkan hukuman jika para  yunior telat kemesjid atau tidak mengisi absen maka hukumannya adalah dengan mahkamah bahasa. Begitu juga adzan magrib, kami melakukan hal yang sama. Hasilnya mereka banyak yang lari-lari untuk datang kemesjid. Tapi tetap saja masih ada yang telat maupun tidak shalat dimasjid. Hari berikutnya, kami bekerja sama dengan para yunior untuk saling membangunkan ketika subuh. Sungguh kerja sama dan kekeluargaan yang baik.
***
Hari minggu adalah jadwal kami bekerja bakti. Kami saling gotong royong membersihkan asrama. Mulai dari depan, samping, koridor maupun belakang asrama. Baihaki selaku seksi kebersihan mengatur posisi kami. Ada yang dapat tugas membersihkan wc, ada yang mengepel. Pokoknya hari itu semua bekerja sama demi terciptanya kebersihan dan keindahan asrama.
Hal yang tidak terlupakan adalah setelah kerja bakti, kita makan wadai dan minum ala kadarnya bersama. Meski cuma sederhana tapi terasa nikmat dan terasa sekali suasana kekeluargaannnya. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Eh iya, satu lagi. Ingat ketika setelah kerja bakti, kita buat es kelapa muda. Jasmin yang mendapat tugas memetik kelapa mudadibelakang asrama. Dia itu sungguh berani. Pohon kelapa setinggi itu, berhasil dia panjat.
***
Malam itu adalah malam minggu. Saya ingat betul malam itu. ketika itu ada pertandingan bola. Akhirnya kegiatan mingguan kami ganti dengan nonton bareng. Lagi-lagi membuat es. Banyak kami buat. Malam itu sungguh spesial karna kami mengundang pihak kampus. Karna bapak ketua STAIN sedang ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, maka di wakilkan oleh bapak Harles Anwar, M.Si selaku pembantu ketua III. Beliau datang untuk memberikan sambutan dan membuka acara nonton bareng itu.
Malam itu begitu meriah. Sejenak melupakan beban dan tugas kuliah. Malam minggu memang ajang bagi kami para mahasiswa untuk bersantai dan mengurangi beban pikiran yang terus diguyur oleh setumpuk tugas maupin makalah. Kami menonton bola pun sampai malam. Kami nonton bareng di teras asrama yang khusus dibuat jikalau ada kegiatan. Setelah selesai menonton, kamipun kembali kekamar masing-masing dan bersiap tidur.
***
Kala itu, Dema STAIN Palangka Raya akan melakukan kegiatan Seminar Internasional. Mereka mengundang beberapa pemateri dari luar kalimantan. Yakni bang avin nadhir dari Indocita fundation dan leoni seorang native speaker dari jerman. Yang hebatnya lagi, mereka lebih memilih tinggal di asrama mahasiswa ketimbang di hotel. Kami banyak dapat ilmu dari bang avin. Bang avin adalah seorang motivator yang sudah mengisi acara motivasi diberbagai kota di Indonesia.
Malam itu, kami sempatkan untuk bisa berbincang-bincang dengan bang avin. Kami membuat acara di teras yang biasa kami gunakan untuk kegiatan. Bang avin memberikan banyak pengalaman. Acara itu dipandu oleh ahmada selaku seksi pendidikan. Sedangkan saya, sibuk dengan kesibukan saya yakni jepret-jepret kamera sambil mencari gambar yang bagus untuk keperluan dokumentasi.
Kegiatan pertemuan dengan bang avin malam itu berjalan dengan lancar. Mereka banyak bertanya tentang masalah-masalah yang merka hadapi. Mungkin ada juga yang curhat. Malam itu sampai jam 10 malam lebih. Hari berikutnya setelah kerja bakti, bang avin bergabung bersama kami dan kami foto bareng. Sungguh pengalaman yang luar biasa yang kami dapat secara gratis dari seorang motivator seperti bang avin. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya.
***
Pagi ini tidak seperti pagi yang biasanya. Kami para senior yang biasanya bangun pagi, entah kenapa pagi ini kami semua kesiangan. Kami bangun hampir jam 5.30 pagi, sehingga telat shalat subuh. Yang paling memalukan lagi adalah yang membangunkan kami adalah mr.Eka selaku pembina kami. Mungkin beliau heran karna salah seorang dari kami para senior tidak ada satupun yang kemesjid. Hemm, kira-kira kenapa yach?????
Malam itu, aku begadang. Baihaki juga iya. Kami dapat tugas banyak. Kami lembur sampai hampir jam 12 malam. Pagi itu, senior yang lain telah bangun untuk shalat tahajud. Setelah shalat tahajud kemudian tidur lagi. Selain rasa kantuk yang sangat, saat itu hujan juga turun. Rasa kantuk dan hawa dingin menyerang kami. Alhasil, kami semuapun terlelap dalam tidur. Sungguh pengalaman yang tidak boleh terulang lagi. Apapun yang terjadi kami tidak boleh bangun kesiangan lagi.
***
“Mandi-mandi”!!! Terdengar suara dari salah satu sudut ruangan. Ya, ruangan dengan lorong yang kecil itu selalu penuh sesak orang-orang yang mau mandi. Antri dengan banyak orang yang akan mandi. Antrian panjang itu seperti orang yang mau beli BBM. Mereka dengan sabar mengantri dan menunggu giliran mereka tiba meski tidak ada nomor antri.
Pemandangan ini selalu bisa kita lihat saat pagi dan sore, yakni saat akan kuliah dan saat menjelang adzan magrib. Pada saat itu, mereka tengah sibuk-sibuknya mandi. Suasana ramai, ada yang mengobrol, ada yang bercanda, ada yang mendengar lagu. Riuh dech. Sesekali ada senior yang datang mengontrol ketika mereka yang sedang mengantri. Sebagian dari mereka mandi diluar yakni dibawah pancuran.
Karna sakingnya banyaknya antrian, tak banyak dari mereka yang telat datang kemesjid saat magrib. Kalau untuk pagi, gak tau ada yang telat masuk kelas atau tidak? Atau mungkin mereka malah tidak mandi? Jawabnya ada diatas sana, atau coba tanya pada rumput yang bergoyang. Apapun jawabannya, itu adalah sebagian dari memori kenangan indah kita yang tak akan terulang untuk kedua kali.
***
Banyak kegiatan diasrama. Sudah sekian lama kami tinggal bersama. Tinggal seatap dengan rasa senasib sepenanggungan. Ada banyak hal yang terus terukir dihati. Banyak hal lucu, menjengkelkan dsb yang masih diingat dalam memori ini. Mungkin dalam‘short term-memory’ (ingatan jangka pendek) atau bahkan ‘long term-memory’ (ingatan jangka panjang). Yang jelas semua akan selalu terukir dan terhias dalam hati setiap orang yang pernah tinggal di asrama.
Layaknya budaya huma betang (rumah betang), kami tinggal satu dengan yang lainnya dengan akrab. Bila ada perselisihan, sebelum mencapai atau sudah mencapai berkelahi kita dapat menanganinya dengan hati dingin sehingga tidak ada rasa dendam dilain hari. Kami juga saling berbagi dengan yang lain. selain itu, teman merupakan tempat untuk curhat dan pinjam-meminjam. Pokoknya semua ada disini. Tempat yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hayat dan akan selalu terkenang.

Cerpen - Dikejar polisi, mobil ku masuk parit

September 05, 2015 Add Comment
Kejadian ini berawal ketika aku sedang mengendarai mobil kesayangan ku. Mobil suzuki carry tahun 2005. Malam itu adalah malam minggu. Rame suasana jalanan malam itu. bahkan saat itu, cuaca agak gerimis. aku berkendara disekitar jalan Kayu manis. Kala itu, aku akan mengunjungi saudaraku.
Sesampainya disana, aku ketemu dengan sepupu ku, namanya marisa. Aku memang sudah ada janji dengannya. Kami sepakat untuk mengisi malam minggu ini berdua. Rencananya kami ingin jalan-jalan, menonton film di bioskop dan makan di pinggir jalan.
Komplek palma adalah tempat yang ku tuju. Aku berkendara dengan lumayan santai. Kecepatan sekitar 40 km/jam. Maklum, berdua dengan cewek. Sepanjang perjalanan pun kami asyik mengobrol seputar pekerjaan dan sekolahnya. Marisa adalah mahasiswi bahasa inggris tingkat akhir di universitas palangka raya. Saya sendiri sudah bekerja sebagai tour guide di kota cantik ini.
Karna saking asyiknya ngobrol, Ketika melewati persimpangan saya menerobos lampu merah. Dan malangnya ada pos polisi didekat persimpangan itu. Dan langsung saja polisi itu mengejar say.a dengan sepeda motor polisi itu. Karna takut di tilang, saya pun tancap gas dan kabur. Saya berhasil menghilang ketika memasuki kawasan perumahan di daerah cilik riwut km.4.
My dream car n gada hubungan dg cerita fiksi ni

Setelah dirasa aman, kamipun melanjutkan perjalanan ke palma dan dengan hati-hati, takut kalau polisi tadi melihat. Sesampainya dipalma, kami berdua menonton film dibioskop 21. Filmnya cukup rame. Film terbaru dari aktor ternama, jackie chan. Aksi didalam film ini cukup menegangkan.
Malam sudah mulai larut, kamipun memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, kami masih bercerita tentang polisi yang mengejar kami tadi. Beberapa kali melewati lampu merah, hati kami berdegup kencang. Takut kalau-kalau ada polisi tadi mengejar.
Saat kami melewati jalan ir sukarno, kami bertemu dengan polisi tadi. Sayapun kabur lagi. Polisi tadi mengejar dengan mobil. Saya juga gak tau, ternyata polisi tadi sudah menunggu saya. Ku arahkan mobil ku  ka arah keluar kota, berharap bisa bersembunyi di balik pohon atau di rumah yang sepi atau dimana sajalah yang penting aman.
Teringat saat dulu pernah mengebut dibanjarmasin. Saya kena tilang dan harus membayar denda tilang sekin ratus ribu rupiah. Maka dari itu, tak ingin ku ulangi kedua kalinya.
Suara sirine mobil polisi ditambah dengan suara menyuruh berhenti menambah gemetar dan takut. Tapi tetap saja aku ngebut. Sebenarnya marisa sudah menyuruhku untuk berhenti, tapi aku tidak mau menyerah. Malah aku tambah kecepatannya.
Saat melewati tikungan tajam didaerah desa kalampangan, mobil kehilangan kendali. Sedikit oleng tapi berhasil ku kuasai. Ciiiiiitttttttt dan brakkk..... mobil ku masuk ke parit. Aku menyerah. Kami berdua selamat tanpa ada luka sedikit pun. Kami pun dibawa ke kantor polisi dan pasti kena tilang.
                                                                                     
Choirul Fuadi, 18 mei 2013

latihan menulis bersama bapak Suyitno BT, Rumah Cahaya FLP Cabang Palangka Raya

Cerpen - Serpihan Cerita dari Pengungsi Rohingya

September 05, 2015 Add Comment

“Sudah sampai ni Yun,” ucap Soni.
“Yuk mari turun Son,” Aajakku
“Sipain alat-alat nya ya, kamera, recorder, bullpen, kertas, dan jangan lupa juga ID card kamu tu Yun,” ucap Soni lagi.
“iya iya son,” ucapku sembari memasang ID wartawan ku di saku baju ku.
Kami berdua pun turun dari mobil hitam yang telah penuh debu karna perjalanan jauh kami. Kami berjalan menuju sebuah wisma. Aku berdiri memandang sebuah wisma yang kabarnya ada beberapa pengungsi dari Etnik Rohingya.
“Wisma Indah Serasi”, komponen nama yang unik menurut ku.
**

Nama saya Yuyun Wulandari. Saya bekerja sebagai seorang Reporter untuk Koran Harian di Kalimantan Tengah. Saya beragama Hindu yang berasal dari sebuah desa kecil di kabupaten Kapuas di Kalimantan Tengah, desa Basarang namanya. Orang bilang desa ku merupakan miniature Bali.
Sebagaian besar masyarakat di kampung ku menganut agama Hindu. Banyak Pura disana. Ayahku asli keturunan Bali, meski sekalipun aku belum pernah menginjakkan kakiku di Pulau dewata itu. Sedangkan nama Wulandari aku dapat dari ibuku yang merupakan keturunan Jawa.
***
Suasana tak begitu riuh. Hawa udara pagi begitu semilir. Menerpa rambutku yang panjang. Kubuka jaket coklatku dan ku tenteng dengan tangan kiriku. Menyisakan baju kemeja yang bertuliskan nama Perusahaan Koran tempatku bekerja. Celana panjang jeans ku menutupi bagian kaki dan terlihat ada sedikit lubang di daerah lutut kakiku, khas anak gaul remaja masa kini.
Di punggung ada sebuah tas ransel hitam besar tempat menyimpan barang-barang ku. Sebagian besar barang bawaan ku berada di tas ini. Aku baru tiba di Makassar tadi malam dan pagi ini langsung menuju wisma ini untuk peliputan.
Aku mendapat tugas dari kantor untuk meliput mengenai kondisi pengungsi rohingya di tempat ini. Dan aku mendapatkan seorang teman, Soni namanya, seorang wartawan dari surat kabar lokal Makassar. Kebetulan dia juga akan meliput diwisma ini juga.
Kamera menggantung di leherku. Dan Aku berjalan santai bersama Soni ke area wisma. Kami disambut dengan hangat oleh penghuni wisma. Beberapa kali kubidikkan kamera ku. Mencari angle gambar yang sesuai untuk laporan ku nanti.
“Assalamu ‘alaikum,” sapa seorang penghuni yang tampak hitam dan kurus badanya.
“Wa ‘alaikumussalam,” jawab ku. Meski aku bukan seorang beragama Islam, namun aku cukup hafal kalimat ini. Banyak teman-teman ku beragama Islam dan lingkungan ku di Kalteng mempunyai rasa toleransi antar umat beragama yang tinggi.
“Aku jadi tidak habis pikir, kenapa masih ada kejahatan Genosida di Myanmar. Pembantaian, pembunuhan dan perilaku keji lainya terhadap umat dan bangsa Rohingya,” pikirku dalam hati.
Soni mengajakku bertemu dengan Pak rahman. Soni bercerita bahwa pak rahman merupakan salah satu korban dari kebiadaban terhadap bangsa Rohingya yang terjadi di Myanmar. Pak rahman sudah 2 tahun tinggal disini. Begitu penjelasan singkat Soni waktu kami berbincang didalam mobil tadi.
Dan disusul dengan anggukan kepalaku, tanda bahwa aku telah mengerti.
***
“Tok, tok,tok,” suara pintu di ketuk.
“Assalamu ‘alaikum,” ucap soni.
Masih belum ada jawaban. Kami menunggu beberapa saat.
Kulihat selasar ruangan dengan lantai ubin putih dan bersih ini. Terdapat banyak pintu dan kamar-kamar.
Tak lama terdengar suara kaki mendekat.
“Assalamu ‘alaikum nak Soni,” ucap seorang lelaki datang dengan menenteng kantong plastik Hitam ukuran besar.
“Wa ‘alaikum salam,” pak Rahman.
Sontak aku pun tahu kalau itu adalah pak Rahman, orang yang kami cari untuk jadi Narasumber kami.
“Apa kabar pak Rahman?” ucap soni dengan senyum lebar di bibirnya sembari menjabat tangan pak Rahman.
“Alhamdulilllah, nak soni sendiri gimana?” timpal pak Rahman.
“Baik Pak,” jawab soni singkat dengan mengelus-elus rambutnya.
“Eh iya ini pak, rekan saya dari Kalimantan Tengah, mau wawancara dengan Bapak,” jawabnya nyerobot dan langsung memperkenalkan diriku tanpa ku minta.
“Saya yuyun Pak,” selaku sembari senyum dengan menampakkan gigi putih ku serta kedua tangan aku katupkan. Aku tak menjabat tangan pak Rahman. Aku tahu, kami berbeda Gender. Aku tahu hal ini karna sering aku ditolak bersalaman oleh lelaki Muslim, jawab mereka karna belum muhrim.
“Cantiknya dek yuyun ni, ha ha ha… mari masuk,” jawabnya.
Dari cara berbicara nya, ku duga pak Rahman sudah lancar berbahasa Indonesia. Sepintas ku perhatikan, Pak rahman ini tidak terlalu gemuk, tinggi, kekar, berkumis, sedikit jenggot, dan logatnya yang ramah dan funny.
Kami bertiga diajak masuk ke ruangan besar yang penuh dengan perkakas dapur. Sepintas aku melihat tulisan di pintu, Kitchen.
Dalam hati, kenapa kami malah ke dapur ya. Penuh tanda Tanya.
“Pak ini kenapa malah kedapur?” Tanya Soni protes.
Pak rahman hanya tersenyum. Lalu membuka kantong plastik hitamnya.
Nampaklah beberapa ikan yang tidak kutahu namanya.
“Kita masak Kari Ikan dulu ya, di Myanmar namanya Shaloon, tadi bapak beli ini di pasar tradisional, gak jauh dari sini,” ungkap Pak rahman dengan senyum lebar menghiasi.

Tanpa berkata-kata, kami pun ikut bergabung membantu Pak Rahman memasak Kari. Jujur saja, meski umur ku ini udah ganda 2, tapi aku tidak terlalu bisa memasak. Semasa Kuliah dulu, aku sering beli sayur matang. Sesekali memasak, itu pun ramai-ramai dengan teman-teman. Dan aku hanya jadi juru iris bawang. Ada sedikit menyesal didalam hati kenapa tidak belajar memasak sedari dulu ya.
“Dasar yuyun,” umpatku dalam hati.
“Yun, itu bumbunya di siapi,” celetuk Soni yang tiba-tiba membuyarkan lamunan ku.
Aku hanya mengangguk pelan. Dan mengambil setumpuk bumbu yang telah disiapkan pak Rahman.
Kulihat soni dengan sigapnya mencuci ikan, sedang pak Rahman mempersiapkan panik yang telah diisi air.
Lewat suasana memasak bersama, keakraban kami langsung terbentuk.
Setelah kurang lebih sejam, Taraaaa….. Shaloon pun siap.
Tanpa babibu pak Rahman menuangkan Kari Ikan kedalam 3 piring. Dalam hati, sepertinya ini waktuku wawancara sembari makan. Ah tak apalah, sesuai pepatah. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampui.
“Pak Rahman sudah sering ya bikin Ikan Kari ini,” Tanya ku singkat.
Pak Rahman tidak menjawab, hanya senyum manis di wajah sedang Soni terlihat melotot matanya seakan member isyarat kepada ku, jangan dulu yun. Kita lagi akan makan ni.
“Sering dong dek Yun, Ayo silahkan di makan Kari nya, nanti Bapak cerita panjang….. sehabis makan, biar kuat, isi tenaga dulu ya,” jawabnya nya dengan disambut gelak tawanya yang khas sembari menyodorkan piring yang telah berisi kari kepada aku dan Soni.
Aku hanya meringis dan mengangguk. Dan kemudian mengisi nasi ke piring-piring kami. Semenit kemudian, acara makan bersama dimulai.
(Sengaja penulis tidak mau bercerita rasa Shaloon seperti apa. Silahkan pembaca bayangkan sendiri dengan imajinasi pembaca…hehehe)
15 menit kemudian, kulihat pak Rahman dan soni sudah selesai. Sedang aku, masih ada sedikit nasi. Ah biasa cewek, pikirku dalam hati. Lagipula, ini kan lagi bertamu. Ya, jaga image lah.
Biasanya, kalau di kantin perusahaan kami bekerja, aku nambah satu piring lagi.
Air putih jadi teman makan shaloon kami.
“Begini dek Yun,” Tiba-tiba Pak Rahman memulai pembicaraan.
“Iya pak Rahman, sebentar saya siapkan buku catatan dulu ya Pak,” jawabku sembari meminum air putih, dan Glek… air yang berwarna putih itu masuk kedalam kerongkonganku dan terasa segar.
“Kalau ngomong masalah Kari ini, saya punya cerita,” jawabnya sembari mengangkat piring kami dan membereskan meja makan.
“Saya dulu Nelayan dek Yun, kerjanya menangkap ikan di laut,” pak Rahman memulai pembicaraan.
“Lalu tiba suatu hari, Tentara datang membeli Ikan. Mereka itu sering saja membeli ikan kepada kami. Awal-awalnya membayar, lalu suatu ketika, mereka ingin mengambil Ikan saya dengan paksa, dan tidak mau membayar,”
“Lalu saya pukul kepala dan wajahnya, ini sebagai bentuk perlawanan saya, ya wajar lah saya membela hak saya, apa yang saya punya,” tutur pak Rahman sembari menunjukkan kepalan tanganya.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Lalu apa yang bapak yang lakukan selanjutnya?” tanyaku singkat
“Saya kabur keluar desa,” jawabnya singkat.
“hmmm… mohon maaf ni pak, kemana istri dan anak-anak bapak?” Tanya ku lagi
“Saya sangat menyesal sekali dek Yun, jadi setelah terjadi pemukulan itu, saya kabur, tetapi sebenarnya tidak jauh dari rumah saya melihat,…..”  jawab Pak rahman dengan sedikit terisak.
“melihat……” jawabnya melanjutkan….
Soni menepuk punggung pak Rahman…. “Sabar ya pak,” ucap Soni lirih.
“Saya melihat Istri dan Anak saya dibunuh, bahkan setelah itu, mereka masih sempat memperkosa istri saya,” ucapnya.
“Lalu kemudian mereka membakar rumah saya, padahal mereka tahu ada jenazah Istri dan anak saya,” dengan Nada suara yang tinggi. Seakan lupa kalau Ia sedang menangis.
“Sejak saat itulah saya kabur kedesa lain,” jawabnya.
“Hmmmm.. Bagaimana diskriminasi yang bapak dan etnis Rohingya alami?
“Ya banyak, misalnya dibebani pajak yang tinggi dalam segala hal. Dikenakan banyak denda. Dipersulit melakukan perdagangan. Kecuali berniaga dengan militer. Itupun dijual dengan harga yang jauh di bawah standar atau dipaksa menjual sesuatu yang tidak ingin kami jual. Ya… supaya kami terus dalam keadaan miskin,” jawabnya sedih
“Saya pernah baca artikel tentang penghapuskan identitas Islam dan apa sich pengaruhnya?” tanyaku sembari menunjukkan beberapa lembar kertas artikel yang ku maksud.
Pak Rahman melihat sejenak kertas tersebut dan kemudian melanjutkan ceritanya.
“Beragam cara, salah satunya menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam. Mulai dari menghancurkan masjid, madrasah, dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Lalu kaum muslimin dilarang sama sekali untuk membangun suatu bangunan yang berkaitan dengan Islam. Dilarang membangun masjid, madrasah, kantor-kantor dan perpustakaan, tempat penampungan anak yatim, dll. Bahkan, sebagian sekolah-sekolah Islam yang tersisa tidak mendapatkan pengakuan dari pemerintah, dilarang untuk dikembangkan, dan tidak diakui lulusannya,” jawabnya.
“Sebegitu kejamnya ya pak mereka?” tanyaku sambil menunjuk lambang Negara Myanmar
“Ya begitulah dek, Umat Islam diusir dari kampung halaman. Tanah-tanah dan kebun-kebun pertanian kami dirampas. Kemudian orang-orang Budha itu mulai  menguasainya, lalu kemudian membangunnya dengan harta-harta yang berasal dari kaum muslimin. Mereka membangunnya menjadi barak militer tanpa kompensasi apapun kepada kami. Kalau kami menolak, maka kami harus menebusnya dengan nyawa,” jawabnya.
“Soal kewarganegaraan, bapak bisa cerita sedikit?” Tanya ku
“Masalah yang kami hadapi, etnis Rohingya karena status kewarganegaraannya. Di Provinsi Rakhine, Kartu putih itu kartu identitas yang dikenakan bagi orang-orang yang tinggal di Myanmar, namun tidak mendapatkan status resmi sebagai penduduk. Pemegang kartu putih berarti mereka bukanlah warga negara Myanmar alias warga negara asing (WNA).
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Umat muslim di Rohingya?” tanyaku singkat
“Selama ini…. secara turun temurun telah terjadi perseteruan antara kelompok etnis Rohingya yang Muslim dan etnis lokal yang beragama Buddha. Kami tidak mendapat pengakuan oleh pemerintah dan ditambah dengan agama yang berbeda,” jawabnya. Raut mukanya memerah pucat. Kini Pak rahman telah berhenti dari tangisanya.
“Ini tragedi pembantaian, sudah lebih dari 6000 warga kami yang mayoritas beragama Islam. Selain dibantai kami juga ditolak kehadiran. Yang Lebih menyedihkan lagi ni dek Yun dan Mas Soni harus tau, presiden melontarkan pernyataan, mengusir kami sebagai penyelesaian konflik bernuasa etnis dan agama. Kami dianggap sebagai warga negara illegal dan di luar negara tidak diterima,” Tuturnya.
“Apa yang bapak Rasakan?” Tanya Soni
“Pembunuhan, penganiayaan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya menjadi hal yang sudah biasa,” ucapnya dengan sedikit ketir sembari menerawang kosong.
“Kaum mayoritas dengan leluasa melakukan aksi tidak manusiawinya. Tak sedikit wanita-wanita berparas cantik, menjadi korban penculikan. Tak hanya itu banyak anak lelaki yang berusia di atas dua belas tahun, yang dibunuh hanya karena dirinya beragama islam,” tambahnya lagi
“Pembunuhan dan penganiayaan secara sadis tanpa pandang bulu setiap hari dilakukan. Baik manula maupun anak kecil menjadi korban tindak kekerasan umat mayoritas Myanmar,” ungkapnya.
“Bagaimana dengan aktifitas sehari-hari disana?” Tanya soni lebih dalam lagi.
“Kami tidak mampu beraktifitas sehari-hari dengan aman dan nyaman. Tidak ada kesempatan bagi kami untuk sekedar makan dan minum karena aktivitas sekecil apapun yang dilakukan tidak diperbolehkan. Apabila larangan itu dilanggar, maka nyawa menjadi taruhannya,” jawabnya yang kini Ia menunjukkan ketegaranya
“Atas dasar itu, militer semakin geram melihat orang-orang muslim beribadah. Mereka mengunci Masjid-Masjid di perkampungan,” jawabnya.
“Hak-hak yang lain bagaimana Pak?” tanyaku singkat
“Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak pun tak dapat kami rasakan. Harga beras mahal dan kami di larang menyimpan makanan dan akhirnya kami kesulitan untuk memenuhi asupan gizi. Kalau ada yang sakit, kami tidak mampu berbuat banyak selain menolong semampu kami dan pasrah.
“Selain itu Pak,?” Soni menyela
Pak Rahman memandang Soni.
“Hampir setiap malam kami hidup dalam kegelapan karena seringnya listrik di padamkan oleh pihak pemerintah,” jawabnya singkat.
“Setelah itu Bapak Kabur, maksud saya mencari perlindungan?” tanyaku
“Saya bersama penduduk desa pergi ke Bangladesh. Setibanya di pantai-pantai Bangladesh, kami dikumpulkan dan dijaga ketat oleh aparat bersenjata lengkap. Di bawah todongan senjata, kami dibariskan dan diberi nasi bungkus serta satu botol air minum,” jawabnya dengan air mata berlinang.
Lagi, soni menenangkan narasumber kami ini.
“Setelah itu, mereka menyuruh kami naik ke sampan-sampan yang jauh dari layak untuk menyeberangi lautan. Dengan tanpa belas kasihan sedikitpun, para militer melakukan perintah komandannya untuk memaksa kami untuk masuk ke sampan itu lalu kembalilah ke laut,” jawabnya.
“Di Bangladesh ditolak di Negara kami diusir, sehingga kami, para Muslim tak berdaya terkatung-katung di laut tidak tahu harus kemana. Tak peduli kami ini mau kemana di bawa ombak, yang pasti kami tidak  ingin merepotkan Bangladesh,” tambahnya.
“Jadi intinya, Muslim Rohingya itu kebingungan harus kembali ke mana. Sebab, di Myanmar mereka tidak diterima bahkan disiksa dan di Bangladesh juga diusir-usir,” jawab ku sok menyimpulkan.
“Lalu bapak singgah kemana saja pak?” Tanya soni lirih
Pak Rahman terdiam sesaat. Menghirup nafas dalam-dalam. Tiba-tiba pak Rahman dengan senyum lebar berkata, yang bahkan tidak kami duga.
“Wah saya ini petualang mas,” jawabnya
“Saya sudah mengunjungi beberapa Negara mas, malahan di Indonesia ini sudah beberapa kota saya kunjungi,” jawabnya dengan kembali dengan senyum dan sedikit gelak tawanya yang menandakan bahwa pak rahman telah kembali kepada dirinya yang lucu.
“Saya kan dari Rakhine, Myanmar, lalu mengungsi ke Bangladesh, setelah itu ke India, Thailand, Malasya, dan Terakhir, saya di perjalankan oleh Allah swt, sampai ke Indonesia,” jawabnya dengan singkat
“Wah sudah banyak Negara yang bapak kunjungi ya, saya aja belum kemana-kemana pak,” jawabku singkat. Dan disusul dengan gelak tawa dari Soni dan Pak Rahman.
“Kalau di Indonesia pak?” sela ku bertanya ke pak Rahman
“Indonesia,,…. Ini Indonesia…., banyak lah, seingat saya Aceh, Sukabumi, Bandar Lampung, Pekanbaru, Medan, Tanjung Pinang, dan Makassar,” jawabnya.
“Kalau untuk kebutuhan hidup sehari-hari gimana Pak?” tanyaku dengan rasa penasaran
“Saya bekerja serabutan lah dek Yun, membantu tetangga sekitar wisma mengerjakan apa saja. Saya bisa perbaiki pintu, lemari, jadi kuli bangunan, sampai masak,” jawab Pak Rahman.
“Kalau dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada bantuan gak pak?” tanyaku
“Alhamdulillah ada dek Yun, Wisma ini saja disediakan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Bagian PBB yang mengurusi  masalah pengungsi, dan kami dapat uang bulanan sebesar Rp 1.250.000 per bulan,” jawabnya penuh syukur terpancar jelas di wajahnya.
“Alhamdulillah,” seru Soni.
“Terus pak, uang itu bapak gunakan untuk apa, kan bapak juga kerja disini?” tanyaku
“Saya punya satu keinginan, Seandainya bisa, saya ingin membuka rumah makan,” ungkapnya sambil tertawa.
“Aamiin,” jawab kami berdua
“Eh, Iya pak, bapak itu kan sering pindah-pindah Negara, emang bapak bisa bahasa apa saja?” tanyaku
“Nasib saya ini yang memaksa saya berpindah–pindah tempat. Dan saya hampir menguasai semua bahasa lokal daerah yang pernah saya tempati sebagai pengungsian. Ini ya dek, selain bahasa Indonesia, saya juga bisa bahasa Bangladesh, India, Thailand, dan Malaysia. Kalau bahasa Indonesia itu tidak susah, karena hampir sama dengan Malaysia,” katanya lalu mempraktekkan kebolehan berbahasanya.
Kami semua tenggelam dalam gelak tawa bersama menyasikan pertunjukkan bahasa Pak Rahman.
Setelah kami rasa cukup. Kami pun pamit. Tak lupa aku titipkan sejumlah uang yang aku bungkus kedalam sebuah amplop kecil kepada Pak Rahman.
Pengalamanku luar biasa. Melaksanakan tugas sekaligus makan bersama dengan salah satu pengungsi dari etnis Rohingya.
Pengalaman wawancara tadi membuatku tenggelam dalam suasana. Seakan merasakan bahwa aku juga bagian dari mereka. Ada perasaan haru dan takjub dengan ketegaran mereka menghadapi penderitaan yang mereka alami.
Andai waktu dapat berputar, namun waktu terus melaju.
Didalam mobil, aku dan soni terus berbincang mengenai pengalaman kami masing-masing sewaktu wawancara dengan Pak Rahman.
The End




By Choirul Fuadi

Puisi - Balada kerinduan

September 05, 2015 Add Comment
Puisi yang saya tulis ketika merasa galau.



Sudah lama tak ku lihat matahari

Sudah lama tak kulihat langit cerah

Sudah lama tak kurasakan hangat sinar mentari

Sudah lama tak kurasakan air hujan

Sudah lama tak ku lihat pelangi

Sudah lama tak ku lihat bulan


Semua hilang,

Hilang,,

Perlahan…

Dinding putih itu menutupi impian ku

Dinding putih itu begitu menyesakkan dada

Sampai kapankah ini akan berakhir


Oh.. tuhan…

Apakah salah dan dosa kami


Haruskah ku berlari menjauihi semua ini

Haruskan ku bertanya pada burung yang terbang

Haruskah ku bertanya pada buaya yang memangsa

Haruskah ku pendam sendiri

Tapi rindu ini semakin dalam kurasakan…


Setetes air mata menetes membasahi bumi yang ku pijak


Young Entrepreneur Conference 2014

September 05, 2015 Add Comment
Saya (memakai jas warna hijau) bersama perwakilan dari sejumlah negara di ASEAN

Kuala Lumpur, Malasya

Menginjakkan kaki di luar negri merupakan impian sejak kecil. Apalagi seorang bocah dari kampung. Kampung ynag jauh dipedalaman hutan Kalimantan.
Semua bermula dari sini, STAIN Palangka Raya, 2010 silam aku memasuki dunia kampus. Semua terasa berbeda. Mulai dari kegiatan local, interlokal dan Nasional. Setelah itu, untuk pertama kalinya aku mengikuti kegiatan di luar negri.
Juni 2014, mendapat kabar lolos seleksi Young Entrepreneur Conference 2014. Acara tersebut diadakan di Kuala Lumpur, Malasya pada 5 Juli 2014. Sungguh hati luar biasa gembira. Waktu sissa tidak lebih dari sebulan. Banting setir n tenaga untuk mendapatkan dana transportasi.
Berbekal dari relasi ajaib, dan mengirim sms keseluruh tokoh masyarakat yang ada. Akhirnya menjadi donator dana kami yakni bupati kobar, Mr.Ujang Iskandar,M.Si. Kemenpora, mr.luqman baehaqi,M.Pd dan Wabup sukamara, H.Windu Subagyo.
4 Juli adalah hari bersejarah, aku terbang ke negri jiran. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Kota Kuala Lumpur yang sungguh indah indah dengan balutan gedung tingkat dan keaneka ragaman manusia yang berasal dari berbagai Negara.
5 Juli,  Aquaria Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), kami para pengusaha muda berkumpul. Ya, semua berumur tidak lebih dari 30 tahun. Para pemateri pun begitu memukau, mereka semua berusia muda. Bahkan boleh dibilang sukses diusia muda.
Hal yang membuat aku senang adalah, aku bisa mencoblos langsung di KBRI Kuala Lumpur, Malasya. Yakni pilpres yang dilaksanakan pada sabtu, 5 juli 2014.